Linsa Course
Berdasarkan problem identification, perusahaan menyadari belum adanya sistem formal untuk mengukur faktor risiko psikososial atau tingkat stres kerja karyawan, padahal aspek ini merupakan bagian penting dari standar K3 (ISO 45001:2018). Proyek ini menetapkan what want to improve berupa tersedianya metodologi pengukuran stres kerja yang valid serta peningkatan kesadaran (awareness) karyawan mengenai kesehatan mental di lingkungan kerja Jakarta. Sebagai problem solution, dilakukan adaptasi survei faktor psikologis ke dalam platform daring (Google Forms), pelaksanaan sosialisasi hasil pengukuran secara transparan kepada seluruh karyawan, serta pemberian kuis edukasi terkait manajemen stres. Inisiatif ini memberikan impact berupa pemetaan profil stres karyawan yang akurat, di mana hasil evaluasi menunjukkan tingkat pemahaman materi (awareness) yang tinggi dengan rata-rata nilai 90.5. Sebagai conclusion, kegiatan pengukuran aspek K3 psikologis ini telah distandardisasi untuk dilaksanakan secara rutin satu kali setiap tahun bersamaan dengan surveillance audit, guna memastikan lingkungan kerja yang sehat secara mental dan produktif secara berkelanjutan.
Keywords: Mental Health, K3 Psychosocial, ISO 45001, Stress Awareness, Psychological Survey.
Berdasarkan problem identification, ditemukan ketidakkonsistenan dalam pemberian fasilitas dan tunjangan bagi awak kapal karena belum adanya pedoman baku serta belum tersedianya format standar untuk pengajuan dinas darat. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa terciptanya keadilan (fairness) dan transparansi dalam pemberian manfaat melalui standardisasi kebijakan yang terukur. Sebagai problem solution, dilakukan penyusunan draf IOM (Internal Office Memo) mengenai standardisasi fasilitas dan benefit, pembuatan formulir baku pengajuan dinas darat untuk awak kapal, serta sosialisasi kebijakan baru kepada departemen Crewing dan Finance. Inisiatif ini memberikan impact berupa proses administrasi yang lebih cepat, eliminasi kecemburuan sosial antar kru kapal, serta pengendalian biaya personalia yang lebih efisien bagi perusahaan. Sebagai conclusion, seluruh template pengajuan dan IOM nominal fasilitas ini telah disahkan sebagai standar operasional tetap (SOP) untuk memastikan pemenuhan hak-hak awak kapal berjalan secara konsisten di seluruh armada Linsa.
Kata Kunci: Benefit Awak Kapal, IOM Fasilitas, Dinas Darat Crew, Fairness Policy.
Berdasarkan problem identification, ditemukan tingginya angka ketidakdisiplinan karyawan yang ditunjukkan oleh banyaknya kegagalan pemenuhan jam kerja, keterlambatan dalam absensi, serta proses koreksi absen yang tidak terstandar. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa penurunan tingkat ketidakdisiplinan melalui penguatan sistem pemantauan dan peningkatan kesadaran karyawan akan pentingnya ketepatan waktu. Sebagai problem solution, dilakukan serangkaian langkah perbaikan yang meliputi pembuatan email notifikasi otomatis sebagai pengingat absensi, pengajuan titik lokasi absen baru untuk area perjalanan dinas, penyusunan standar prosedur koreksi absen, serta pelaksanaan sosialisasi kedisiplinan secara daring. Inisiatif ini memberikan impact berupa peningkatan kepatuhan administrasi SDM, pengurangan beban kerja manual dalam verifikasi kehadiran, dan terciptanya budaya kerja yang lebih profesional. Sebagai conclusion, seluruh sistem pengingat otomatis dan standar koreksi absen ini telah dibakukan menjadi protokol tetap manajemen SDM untuk memastikan keberlanjutan kedisiplinan seluruh karyawan di lingkungan Linsa.
Kata Kunci: Employee Discipline, Absensi Otomatis, SOP Koreksi Absen, Email Notifikasi.
Berdasarkan problem identification, ditemukan ketidakselarasan (misalignment) antara pengembangan kompetensi karyawan dan strategi bisnis di tim operasional, yang menyebabkan rendahnya kesiapan kader pemimpin (benchstrength) dan kurangnya keterajaman KPI dalam mendukung pertumbuhan perusahaan. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa penyelarasan ulang strategi pengembangan SDM agar mampu mencetak talenta yang kompeten dan memiliki karakter sesuai DNA Triputra. Sebagai problem solution, dilakukan penguatan program "Leader Create Leaders", pengembangan "Linsa Academy" sebagai pabrik talenta (people factory), serta perbaikan kualitas evaluasi kinerja dan pembaruan deskripsi pekerjaan (job description) yang adaptif terhadap perubahan bisnis. Inisiatif ini memberikan impact berupa peningkatan kualitas talenta, penempatan personel yang lebih tepat (the right man in the right place), serta terbangunnya founder’s mentality di kalangan karyawan operasional. Sebagai conclusion, kerangka pengembangan SDM yang terintegrasi melalui siklus Attract, Develop, Deploy, dan Leadership ini telah dibakukan sebagai strategi jangka panjang perusahaan untuk memastikan ketersediaan pemimpin masa depan yang siap menjaga keberlanjutan bisnis Linsa.
Keywords: Talent Management, Linsa Academy, Leader Create Leaders, People Bench Strength.
Berdasarkan problem identification, kapal Lintas XVII mengalami penurunan performa kecepatan dan efisiensi yang signifikan di pasar, di mana kondisi ballast dengan trim besar (1,6 m) menyebabkan hambatan haluan tinggi dan menurunkan efisiensi daya dorong propeller hingga 30%. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa peningkatan kecepatan kapal (speed performance) dan relevansi komersial armada di pasar melalui optimasi teknis. Sebagai problem solution, dilakukan inovasi analisis hambatan (resistance analysis), rekayasa ulang (reengineering) propeller, serta penetapan standar baru untuk sailing draft (laden dan ballast) guna menjaga trim kapal tetap di bawah 1 meter. Inisiatif ini memberikan impact berupa peningkatan kecepatan kapal menjadi 8,3 knot, konsumsi BBM yang lebih efisien, serta peningkatan daya saing armada di mata pelanggan. Sebagai conclusion, standar navigasi dan parameter teknis mesin ini telah dibakukan dalam prosedur operasional kapal, dengan rencana Yokoten (replikasi) pada kapal Fery XVI serta evaluasi lanjutan untuk modifikasi sistem pendingin mesin tertutup.
Keywords: Propeller Reengineering, Resistance Analysis, Trim Optimization, Sailing Draft.
Berdasarkan problem identification, perusahaan belum memiliki standar penilaian kondisi kapal yang komprehensif dan sistem data partikular kapal masih belum tersentralisasi, sehingga sulit untuk melakukan pemantauan kondisi aktual armada secara akurat. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa pembentukan sistem Vessel Assessment yang terstandar untuk memastikan kesiapan operasional kapal dan kemudahan akses data aset. Sebagai problem solution, dikembangkan platform L-VAS (Lintas Vessel Assessment Standard) yang mengintegrasikan penilaian kondisi kapal berbasis klasifikasi dengan pangkalan data partikular yang terpusat. Inisiatif ini memberikan impact yang signifikan pada aspek cost melalui penerapan planned predictive maintenance yang lebih terukur, serta aspek moral di mana kru kapal merasa lebih tenang karena dapat mempersiapkan langkah preventif berdasarkan sejarah data aktual kapal. Sebagai conclusion, pengisian penilaian kapal kini telah terintegrasi dalam sistem perusahaan dan laporan yang dihasilkan menjadi standar baku untuk inspeksi periodik semesteran guna mencegah unavailability kapal di masa mendatang.
Keywords: Vessel Assessment, Centralized Ship Data, Predictive Maintenance, Ship Condition Rating.
Melalui pemantauan problem identification, data historis membuktikan bahwa performa percepatan (performance speed) armada kapal MT LIX/SPOB Lintas IX sering kali belum mencapai target (under-target), sehingga meningkatkan rasio pemborosan fuel consumption dan menekan margin pendapatan. Inisiatif proyek difokuskan pada what we want to improve, yakni mencari titik hambatan laju dan mendongkrak performa kecepatan kapal agar konsumsi bahan bakar lebih irit dan efisien. Penentuan problem solution dilakukan dengan membedah spesifikasi teknis anomali pada temperatur Main Engine, serta melakukan intervensi perbaikan mekanikal (Kaizen) pada komponen di kamar mesin yang menghambat putaran propulsi secara optimal. Usaha ini menghasilkan impact luar biasa pada efisiensi pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM), meningkatnya rasio tarikan muatan (cycle time) dalam sebulan, serta margin keuntungan operasional kapal yang kian melebar. Pada akhirnya sebagai conclusion, penanganan suhu mekanikal dan standarisasi inspeksi laju mesin ditetapkan sebagai rutinitas pemeliharaan utama agar masalah speed-loss dapat dicegah lebih awal di masa depan.
Keywords: Vessel Speed, Fuel Efficiency, MT.LIX Performance, Operational Excellence.
Dalam problem identification, ditemukan kendala dalam proses perpanjangan sertifikat kapal TB. SADP XXX sering mengalami keterlambatan, terutama karena masalah teknis saat mengunggah data ke sistem SIMKAPEL dan kurangnya dokumen pendukung yang lengkap. Proyek ini memfokuskan what we want to improve pada peningkatan persentase kesiapan sertifikat kapal agar selalu dalam kondisi valid untuk mendukung kelancaran operasional. Sebagai problem solution, dilakukan perbaikan alur kerja melalui pembuatan Instruksi Kerja (IK) khusus untuk pengunggahan sertifikat ke SIMKAPEL, penyediaan formulir ceklis dokumen yang baru diperpanjang, serta koordinasi intensif dengan kru kapal untuk memastikan kelengkapan bukti dokumentasi. Inisiatif ini memberikan impact berupa proses administrasi yang lebih teratur, peminimalisasian pengunggahan ulang akibat data tidak lengkap, dan kepastian bahwa setiap sertifikat telah diperiksa kesesuaiannya sebelum diserahkan ke kapal. Sebagai conclusion, prosedur pembuatan form ceklis dan instruksi kerja digital ini telah distandardisasi untuk digunakan oleh bagian dokumen kantor (DOK Office) guna mencegah hambatan legalitas armada di masa mendatang.
Keywords: Vessel Certificates, SIMKAPEL, DOK Office.
Berdasarkan problem identification, ditemukan adanya masalah cargo overfill pada tangki 1W-4W dan rendahnya level air ballast yang menyebabkan kinerja muatan (cargo performance) pada kapal OB Famida tidak optimal. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa peningkatan cargo performance dengan target pencapaian minimal 75,9% untuk periode Mei – Juli 2025. Sebagai problem solution, dilakukan perbaikan melalui pembuatan stowage plan baru untuk mencegah tangki terisi berlebih serta penambahan level air ballast guna menjaga stabilitas dan efisiensi pemuatan. Inisiatif ini memberikan impact yang nyata dengan tercapainya actual achievement sebesar 76,9%, di mana pada 4 voyage terakhir (voyage 10-13) seluruhnya berhasil mencapai target tanpa terjadi kerugian (losses). Sebagai conclusion, penerapan stowage plan yang presisi dan pengaturan level ballast ini telah terbukti efektif meningkatkan keandalan operasional OB Famida dan akan dipantau secara berkala untuk menjaga konsistensi performa kapal.
Keywords: Cargo Overfill, Stowage Plan, Water Ballast Level, Cargo Losses, OB Famida.
Terkait problem identification, teridentifikasi adanya tren temuan audit (finding) yang berulang pada berbagai armada kapal, yang mengindikasikan bahwa tindakan korektif sebelumnya belum menyentuh akar permasalahan secara permanen. Proyek ini menetapkan what we want to improve berupa minimalisasi atau penghapusan temuan berulang untuk meningkatkan skor kepatuhan SHE (Safety, Health, and Environment). Langkah problem solution yang diambil meliputi pembuatan "Form Familiarisasi Pelatihan Kepatuhan Pengisian" bagi kru, audit internal yang lebih ketat, serta penguatan implementasi Safety Management System (SMS) di atas kapal. Hal ini menghasilkan impact yang signifikan, yakni penurunan jumlah temuan berulang sebesar 82% dari kuartal 1 ke kuartal 2 tahun 2025, serta peningkatan nilai SHE Index menjadi 5%. Pada bagian conclusion, standardisasi formulir pelatihan dan prosedur pengawasan ini ditetapkan sebagai protokol wajib untuk memastikan setiap temuan audit diselesaikan secara tuntas dan tidak muncul kembali di masa mendatang.
Keywords: Repeated Findings, SHE Index, Compliance Training, Audit Vetting.
Dalam problem identification, ditemukan bahwa proses audit kelayakan kapal (vetting) oleh PSA sering menghasilkan temuan kategori High Risk yang, jika tidak diatasi, akan memperpendek masa berlaku sertifikat kelayakan kapal dan meningkatkan frekuensi audit ulang. Fokus what we want to improve adalah menurunkan jumlah temuan berisiko tinggi tersebut guna memastikan seluruh armada Tug Boat dan Barge memenuhi standar keamanan internasional (SIRE/BIRE). Sebagai problem solution, dilakukan peningkatan pengawasan internal melalui Pre-Vetting Inspection, koordinasi intensif antara tim DPA-HSSE dan kru kapal, serta pemenuhan standar teknis sesuai kriteria terbaru dari pelanggan (Pertamina). Inisiatif ini memberikan impact berupa efisiensi biaya survei hingga akhir Desember 2025 sebesar Rp 194.876.500, serta penurunan hari downtime kapal karena frekuensi audit yang lebih terkontrol. Sebagai conclusion, keberhasilan menurunkan temuan High Risk ini secara resmi meningkatkan daya saing perusahaan di level internasional dan memperkuat kepercayaan pelanggan terhadap standar keselamatan armada.
Keywords: Vetting PSA, Tug & Barge, High Risk Findings, SIRE/BIRE, Downtime Reduction.
Dari sisi problem identification, terdapat kendala pada lambatnya penyiapan dokumen tagihan (ready to bill) karena belum adanya aturan waktu sinkronisasi data dari sistem OMS ke Odoo, serta kurangnya monitoring posisi kapal sebagai dasar penerbitan faktur. Tim menyusun target what we want to improve untuk mempercepat siklus penagihan (billing cycle) dan memastikan koleksi piutang berjalan sesuai jadwal SOP. Sebagai problem solution, dibuat aturan SLA yang ketat terkait sinkronisasi data (maksimal H+19 jam setelah loading), sistem reminder otomatis, serta pembaruan dasbor daily monitoring yang mencakup seluruh alur sistem dari awal hingga resi pengiriman. Tindakan ini membawa dampak pada pencatatan pendapatan (accrued revenue) yang lebih akurat dan tepat waktu, serta mempercepat proses cash-in bagi perusahaan. Untuk conclusion, integrasi monitoring sistem OMS-Odoo dan penerapan SLA penagihan ini telah distandardisasi sebagai bagian dari upaya penguatan arus kas operasional perusahaan.
Keywords: Ready to Bill, Billing Cycle Optimization, SLA Sinkronisasi Data, OMS–Odoo Integration, Accounts Receivable.
Melalui problem identification, ditemukan adanya inefisiensi dan risiko kehilangan data yang tinggi saat melakukan pemindahan atau migrasi database skala besar secara konvensional, yang sering kali menghambat proses pengembangan fitur baru pada sistem perusahaan. Proyek ini ditujukan pada what want to improve yaitu optimasi skrip migrasi database agar berjalan lebih akurat, aman, dan meminimalkan waktu henti (downtime). Langkah problem solution dieksekusi dengan membangun automated script yang mencakup proses pre-processing, cleansing, hingga reporting & verification secara otomatis untuk memastikan integritas data tetap terjaga. Perbaikan ini memberikan impact pada kecepatan transfer data yang luar biasa, penghapusan data duplikat secara instan, dan tersedianya audit trail yang lengkap untuk setiap aktivitas migrasi. Menuju conclusion, metodologi optimasi migrasi ini kini menjadi referensi teknis utama dalam setiap proyek integrasi data di lingkungan Lintas Samudra Borneo Line.
Keywords: Database Migration, Data Integrity, Automated Scripting, SQL Cleansing.
Dalam hal problem identification, proses pembaruan aplikasi (deployment) pada sistem OMS awalnya merupakan bottleneck karena dilakukan secara manual, memakan waktu lama, dan sangat bergantung pada personel tertentu sehingga berisiko tinggi terhadap stabilitas server. Sasaran what we want to improve adalah mentransformasi proses tersebut menjadi otomatis, cepat, dan andal demi mendukung operasional TI yang lebih lincah. Sebagai problem solution, diterapkan teknologi CI/CD pipeline menggunakan GitLab yang memungkinkan server merespons setiap perubahan kode secara otomatis dan mengirimkan notifikasi real-time via Google Chat. Hal ini membawa impact berupa pemangkasan waktu deployment menjadi kurang dari 15 menit, beban kerja tim TI yang lebih merata, serta lingkungan server yang jauh lebih stabil dan terdokumentasi. Sebagai conclusion, standar alur deployment otomatis ini telah disahkan sebagai protokol tetap pengembangan perangkat lunak di departemen IT Development.
Keywords: CI/CD Pipeline, GitLab Automation, Python Web Deployment, Server Stability.
Berdasarkan problem identification, proses persetujuan (approval) pengadaan aset (CAPEX) masih bersifat manual dan terfragmentasi, sehingga menyebabkan data tidak konsisten, pelacakan audit lemah, serta keterlambatan ketersediaan alat kerja operasional. Proyek ini memfokuskan what we want to improve pada percepatan lead time pengadaan melalui otomatisasi dan integrasi sistem agar aset tersedia tepat waktu. Sebagai problem solution, diimplementasikan sistem approval digital yang terintegrasi, menghilangkan input manual yang berulang, serta menyinkronkan data antardepartemen terkait. Inisiatif ini memberikan dampak yang signifikan berupa penurunan beban kerja administrasi (hidden cost), minimalisasi human error, serta peningkatan kepuasan pengguna (user) karena alat kerja kini tersedia lebih cepat dan lebih aman. Sebagai conclusion, otomatisasi alur kerja pengadaan ini resmi dijadikan standar baru dalam manajemen aset perusahaan untuk menjamin kelancaran dukungan sarana operasional secara berkelanjutan.
Keywords: CAPEX Approval, Digital Procurement, Asset Tracking, Integrated System.
Terkait problem identification, proses pengajuan harga (price request) dinilai lambat, ditandai dengan 12% dokumen feasibility study yang melebihi batas waktu (over SLA) akibat kurangnya sinkronisasi lintas fungsi, sehingga memicu tingginya waiting time dan risiko hilangnya pendapatan (loss revenue). Oleh karena itu, perusahaan menetapkan target what we want to improve berupa peningkatan kecepatan respons penawaran harga dan penurunan lead time proses sebesar 15%. Sebagai problem solution, diterapkan redesain alur price request secara end-to-end, pembuatan Service Level Agreement (SLA) antardepartemen, serta rutinitas Cross-Functional Alignment Meeting. Inisiatif ini memberikan impact pada peningkatan pemahaman alur kerja kolaborasi antardepartemen, di mana tim menjadi lebih responsif, proaktif, dan memiliki sense of urgency yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan komersial. Pada bagian conclusion, standardisasi SLA lintas fungsi berhasil memangkas durasi tunggu secara berkelanjutan, sehingga secara langsung melindungi perusahaan dari risiko kehilangan pendapatan.
Keywords: Quick Response, Price Request, Quotation SLA, Loss Revenue, Commercial Efficiency.
Berdasarkan problem identification, proses kustomisasi pengumpulan data dari pelanggan (inquiry) belum memiliki format baku yang memicu komunikasi klarifikasi berulang, memperlambat proses penerbitan harga, dan berpotensi menurunkan Customer Satisfaction Index (CSI). Proyek ini berfokus pada what we want to improve yaitu mempercepat siklus penawaran harga kepada pelanggan demi mencapai target peningkatan CSI di tahun 2025. Sebagai problem solution, diimplementasikan penggunaan wajib "Form Digital Standard Inquiry" agar kelengkapan parameter data terjamin sejak awal, dipadukan dengan percepatan wewenang penetapan harga (Delegation of Authority) secara fast track (contoh: margin ≥8% langsung diproses). Hal ini menghasilkan impact berupa hilangnya kebingungan akibat data tidak valid, proses kalkulasi harga yang jauh lebih cepat (target pengajuan hanya 0.5 jam), serta pengambilan keputusan yang sangat terukur. Sebagai conclusion, standardisasi formulir digital dan matriks otoritas margin ini telah ditetapkan sebagai protokol baku komersial dalam menetapkan harga secara cepat dan presisi.
Keywords: Customer Survey Index, Inquiry Digital, Delegation of Authority, Quotation Speed.
Dalam hal problem identification, terpantau bahwa tingkat respons partisipasi pelanggan dalam mengisi survei kepuasan (CSI) masih kurang optimal, terutama dari daftar klien nonaktif, sehingga validitas data evaluasi menjadi tidak representatif. Perusahaan memfokuskan what we want to improve pada peningkatan tingkat partisipasi klien (response rate) serta memperkuat validitas pelaporan survei kepuasan tersebut. Untuk mewujudkannya, problem solution yang diusung meliputi revisi metode dan formulir survei agar lebih terpusat pada Net Promoter Score (NPS), yang diiringi dengan peluncuran Program Apresiasi berupa pemberian suvenir eksklusif bagi responden yang berpartisipasi. Hasilnya memberikan impact berupa lonjakan angka partisipasi yang membuat data umpan balik jauh lebih kaya, serta kemudahan bagi tim komersial untuk memantau keluhan secara real-time via CSI tracker dashboard. Menginjak conclusion, skema modifikasi formulir dan kompensasi suvenir ini resmi dijadikan standar baku dalam prosedur customer survey yang terintegrasi dengan target metrik (KPI) manajemen.
Keywords: CSI Survey, Net Promoter Score, Customer Engagement, CSI Tracker Dashboard, Response Rate.
Melalui problem identification, ditemukan kendala berupa tingginya angka deviasi (selisih) antara perhitungan budget estimasi dan realisasi pembebanan biaya agensi, pandu, tunda, bahan bakar, dan tambat labuh. Target what we want to improve dari inisiatif ini adalah menekan angka deviasi hingga batas ekspektasi 5%-10% dan memastikan keakuratan perhitungan beban operasional pelabuhan. Langkah problem solution dieksekusi dengan menyusun rumusan perhitungan yang komprehensif untuk mengidentifikasi seluruh fixed cost per pelabuhan serta menetapkan jadwal pembaruan parameter biaya jasa agensi secara berkala. Perbaikan ini membuahkan impact pada analisis profitabilitas armada yang jauh lebih akurat dan meminimalkan kebocoran estimasi keuangan proyek, sehingga menunjang fleksibilitas harga jual (freight rate) di pasar. Menuju conclusion, standardisasi rumusan beban biaya pelabuhan dan SOP pembaruan tarif resmi diterapkan sebagai pakem perhitungan budget operasional kapal di seluruh pelabuhan sandar.
Keywords: Agency Fee, Port Charges, Deviasi Biaya, Cost Accuracy, Business Development Finance.
Melalui pemantauan problem identification, data historis membuktikan bahwa performa percepatan (performance speed) armada kapal MT LIX/SPOB Lintas IX sering kali belum mencapai target (under-target), sehingga meningkatkan rasio pemborosan fuel consumption dan menekan margin pendapatan. Inisiatif proyek difokuskan pada what we want to improve, yakni mencari titik hambatan laju dan mendongkrak performa kecepatan kapal agar konsumsi bahan bakar lebih irit dan efisien. Penentuan problem solution dilakukan dengan membedah spesifikasi teknis anomali pada temperatur Main Engine, serta melakukan intervensi perbaikan mekanikal (Kaizen) pada komponen di kamar mesin yang menghambat putaran propulsi secara optimal. Usaha ini mendatangkan impact luar biasa pada efisiensi yang drastis dalam pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM), meningkatnya rasio tarikan muatan (cycle time) dalam sebulan, serta margin keuntungan operasional kapal yang kian melebar. Pada akhirnya, sebagai conclusion, penanganan suhu mekanikal dan standardisasi inspeksi laju mesin ditetapkan sebagai rutinitas pemeliharaan utama agar masalah speed-loss dapat dicegah lebih awal di masa depan.
Keywords: Vessel Speed, Fuel Efficiency, MT.LIX Performance, Operational Excellence.
Ditemukan bahwa waktu pemenuhan kebutuhan karyawan (lead time fulfillment) untuk posisi non-managerial masih terlalu lama, sehingga menghambat operasional departemen terkait. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu mempercepat proses pengisian posisi kosong agar sesuai dengan target waktu perusahaan. Sebagai problem solution, dilakukan pembuatan dashboard otomasi pengingat FPTK, standardisasi formulir wawancara HRD untuk menggali ekspektasi kandidat lebih awal, serta memperluas jaringan kerjasama dengan kampus-kampus (seperti UNDIP). Inisiatif ini memberikan impact berupa perpendekan siklus rekrutmen dan peningkatan kualitas kandidat yang terjaring. Sebagai conclusion, metode monitoring dan perluasan sumber rekrutmen ini telah dibakukan menjadi prosedur tetap dalam proses pemenuhan manajer daya manusia.
Keywords: Leadtime Fulfillment, Recruitment Speed, Automation Dashboard, Talent Sourcing, Manpower Planning.
Identifikasi masalah menunjukkan sering terjadiny terjadinya ketidaksiapan sertifikat kapal yang sudah habis masa berlakunya, yang disebabkan oleh kendala teknis saat mengunggah ke sistem SIMKAPEL dan kurangnya pengecekan fisik sertifikat. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu memastikan seluruh sertifikat kapal TB. SADP XXX selalu dalam kondisi siap dan valid sebelum jatuh tempo. Sebagai problem solution, dilakukan pembuatan instruksi kerja (IK) untuk pengunggahan dokumen, penggunaan jaringan cadangan saat sistem bermasalah, serta pembuatan form checklist verifikasi sertifikat baru. Inisiatif ini memberikan impact berupa kelancaran izin operasional kapal dan penghindaran denda atau larangan berlayar akibat masalah administratif. Sebagai conclusion, penggunaan checklist dan IK baru ini telah dibakukan untuk diterapkan oleh bagian Dokumen dan Operasional Kapal.
Keywords: Vessel Certification, SIMKAPEL, Compliance, Document Readiness, Operational Permit.
Berdasarkan problem identification, ditemukan bahwa rasio pendapatan dari pelanggan baru (new customer) masih rendah (2,63%), sementara target perusahaan menuntut pertumbuhan ekstensifikasi yang lebih agresif. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu meningkatkan rasio revenue pelanggan baru hingga mencapai target 5% melalui strategi penetapan pasar yang tepat. Sebagai problem solution, dilakukan penguatan tim komersial dalam analisis kelayakan (feasibility study), kolaborasi dengan departemen Business Development, serta percepatan proses penawaran teknis pembangunan kapal baru. Inisiatif ini memberikan impact berupa peningkatan pipeline proyek baru dan kontribusi pendapatan yang lebih terdiversifikasi. Sebagai conclusion, prosedur koordinasi antara tim teknis, finansial, dan komersial ini dibakukan sebagai strategi pemenangan pasar di masa depan.
Keywords: Revenue Growth, New Customer Ratio, Market Extension, Feasibility Study, Commercial Strategy.
Berdasarkan identifikasi masalah, ditemukan bahwa pengeluaran biaya tiket perjalanan kru sering melebihi anggaran (over budget) hingga 36% akibat pemesanan yang mendadak atau tidak terencana. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu menekan biaya transportasi melalui pengelolaan pemesanan tiket yang lebih terencana dan efisien. Sebagai problem solution, dilakukan pengetatan jadwal rotasi kru untuk menghindari pembelian tiket last-minute serta optimalisasi kerja sama dengan agen perjalanan. Inisiatif ini memberikan impact berupa penurunan biaya tiket hingga di bawah anggaran (under budget) sebesar 27% pada periode evaluasi. Sebagai conclusion, prosedur pemesanan tiket ini telah dibakukan dalam kebijakan perjalanan dinas perusahaan untuk memastikan efisiensi biaya tetap terjaga.
Keywords: Cost Reduction, Travel Management, Ticket Procurement, Budget Control, Crew Rotation.
Identifikasi masalah menunjukkan rendahnya persentase penyelesaian risalah improvement (QCC/SS/5R) di lingkungan perusahaan, yang menghambat budaya inovasi dan pencapaian target efisiensi. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu meningkatkan jumlah risalah yang selesai tepat waktu melalui pendampingan dan monitoring yang lebih intensif. Sebagai problem solution, dilakukan pembuatan jadwal konsultasi rutin, penyediaan template risalah yang mudah dipahami, serta pemberian apresiasi bagi tim yang berhasil menyelesaikan proyeknya. Inisiatif ini memberikan impact berupa meningkatnya partisipasi karyawan dan jumlah proyek improvement yang berhasil diimplementasikan secara nyata. Sebagai conclusion, sistem monitoring progres risalah ini menjadi standar baru bagi tim Quality Management untuk memastikan keberlanjutan budaya Kaizen di perusahaan.
Keywords: Improvement Culture, Risalah Completion, Kaizen, Quality Management, Employee Engagement.
Berdasarkan problem identification, ditemukan adanya risiko besar akibat keterlambatan pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan bagi kru kapal, karena proses pendaftaran memakan waktu lama akibat beban kerja PIC yang tinggi dan sistem akun yang masih terhubung dengan entitas lain. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu menurunkan waktu pendaftaran kru menjadi hanya 1 hari kerja guna memastikan perlindungan sosial segera aktif. Sebagai problem solution, dilakukan pengalihan tanggung jawab pendaftaran, pengajuan pemisahan akun SIPP dari grup besar, serta pelaksanaan sosialisasi BPJSTK bagi kru baru. Inisiatif ini memberikan dampak dampak berupa mitigasi risiko finansial perusahaan jika terjadi kecelakaan kerja dan kepastian hak perlindungan bagi kru. Sebagai conclusion, prosedur pemisahan akun dan alur pendaftaran baru ini telah dibakukan dalam standar operasional departemen terkait.
Keywords: BPJS Ketenagakerjaan, Risk Mitigation, Crew Protection, Process Acceleration, Account Separation.
Ditemukan bahwa pengelolaan dokumen legal perseroan belum optimal, dengan risiko kehilangan dokumen fisik dan kesulitan melacak masa berlaku izin. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu meningkatkan efisiensi dan kepatuhan perusahaan melalui sistem pengarsipan dokumen legal yang terstandar. Sebagai problem solution, diterapkan konsep 5R pada ruang penyimpanan, pembuatan SOP peminjaman dokumen, serta digitalisasi dokumen (penyimpanan softcopy) yang terintegrasi. Inisiatif ini memberikan impact berupa kemudahan akses data saat audit, pencegahan keterlambatan perpanjangan izin, dan perlindungan aset informasi perusahaan. Sebagai conclusion, sistem manajemen dokumen ini dibakukan ke dalam kebijakan tata kelola administrasi legal yang wajib dijalankan secara berkelanjutan.
Keywords: Legal Documentation, 5R Standard, Compliance, Digital Archiving, Document Control.
Berdasarkan problem identification, ditemukan tingginya nilai persediaan suku cadang kategori slow-moving yang bersifat non-kritis, sehingga mengendapkan modal perusahaan dan meningkatkan biaya penyimpanan. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu menurunkan nilai stok slow-moving melalui optimalisasi penggunaan spare part yang ada untuk kebutuhan operasional. Sebagai problem solution, dilakukan identifikasi ulang katalog material, koordinasi dengan tim teknis terkait penggunaan stok lama pada saat jadwal docking kapal, serta memperbanyak alternatif vendor untuk pengadaan material agar lebih fleksibel. Inisiatif ini memberikan impact berupa pengurangan nilai inventori secara signifikan dan peningkatan arus kas perusahaan. Sebagai conclusion, hasil perbaikan ini dibakukan ke dalam sistem manajemen pergudangan untuk memastikan kontrol stok yang lebih ketat terhadap kategori non-critical part.
Keywords: Slow Moving Stock, Inventory Reduction, Non-Critical Part, Warehouse Management, Cost Control.
Ditemukan bahwa performa kargo pada kapal Fery XII belum mencapai target SLA yang ditetapkan, yang disebabkan oleh kurangnya inisiatif tim di lapangan serta pengawasan yang belum optimal selama proses bongkar muat. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu meningkatkan cargo performance melalui penguatan aspek soft skill dan disiplin pengawasan kru. Sebagai problem solution, dilakukan mentoring komunikasi tim, peningkatan frekuensi pembaruan laporan kerja di grup koordinasi (dari 1x menjadi 3x sehari), serta pemberian apresiasi kepadaa tim yang mencapai target. Inisiatif ini memberikan impact berupa peningkatan inisiatif kru, kepercayaan diri dalam delegasi tugas, dan pencapaian target SLA kargo yang lebih stabil. Sebagai conclusion, pola pengawasan dan standar komunikasi ini dijadikan acuan tetap dalam operasional kapal Fery XII.
Keywords: Cargo Performance, SLA Improvement, Team Initiative, Monitoring & Control, Operational Excellence.
Berdasarkan problem identification, ditemukan bahwa nilai audit 5R di area outdoor logistik Jakarta sangat rendah, yaitu rata-rata hanya 34%. Hal ini disebabkan oleh penempatan barang bekas yang tidak teratur, kurangnya identitas barang, serta adanya potensi barang yang sudah melewati batas waktu penyimpanan namun tetap menumpuk. Proyek ini berfokus pada what we want to improve, yaitu meningkatkan nilai audit 5R hingga mencapai target minimal 80%. Sebagai problem solution, dilakukan pemilahan barang bekas, pemberian label identitas yang jelas, pengajuan penghapusan barang yang sudah tidak dapat digunakan, serta perbaikan tata letak penyimpanan. Inisiatif ini memberikan impact yang signifikan berupa peningkatan nilai audit 5R menjadi 89% pada periode Feb-Mar 2024. Sebagai conclusion, hasil perbaikan ini dibakukan menjadi standar tata kelola area outdoor agar tetap rapi dan tidak ada temuan berulang di audit mendatang.
Keywords: Outdoor Logistics, 5R Audit, Warehouse Management, Waste Sorting, Identification Labeling.